QRISMA FEST 2026: Saat Tradisi Bertemu Transaksi Digital di Kayutangan Malang

Malang kembali menunjukkan caranya merawat masa lalu tanpa tertinggal dari masa depan. Lewat QRISMA FEST 2026 Vol. 1 bertajuk Gema Kadjoe Tangan, transformasi digital hadir di tengah kawasan heritage yang penuh cerita: Kayutangan.

Festival yang resmi dibuka pada 4 Mei 2026 ini merupakan hasil kolaborasi antara Bank Indonesia Malang, Pemerintah Kota Malang, OJK, industri perbankan, pelaku UMKM, hingga komunitas lokal. Mengusung tema Dari Tradisi ke Transaksi, acara ini menjadi bagian dari perayaan HUT ke-112 Kota Malang sekaligus langkah nyata mendorong masyarakat semakin akrab dengan sistem pembayaran digital.

Di balik suasana klasik Kayutangan yang sedang marak diperbincangkan, ternyata ada perubahan besar yang sedang berlangsung. Transaksi QRIS di Kota Malang menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Data dalam siaran pers menyebutkan bahwa merchant QRIS di Kota Malang mencapai 68% dari total merchant di wilayah kerja BI Malang, dengan kontribusi volume transaksi hingga 73%. Angka ini menempatkan Malang sebagai salah satu kota paling progresif dalam adopsi pembayaran digital di wilayahnya.

Apa artinya ini? Sederhananya, semakin banyak pelaku usaha dan konsumen yang beralih ke transaksi non-tunai. Terntyata perubahan ini bukan cuma soal tren, tapi soal efisiensi dan akses yang lebih luas.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang menekankan bahwa QRISMA FEST bukan sekadar festival biasa. Ada misi besar di dalamnya: membangun ekosistem pembayaran digital yang inklusif, aman, dan berkelanjutan. QRIS sendiri terus didorong sebagai metode pembayaran yang CEMUMUAH—Cepat, Mudah, Murah, Aman, dan Handal.

Menariknya, digitalisasi ini tidak menghapus identitas lokal. Justru sebaliknya. Kayutangan tetap menjadi pusat aktivitas dengan nuansa heritage yang kuat, sementara teknologi hadir sebagai pelengkap, bukan pengganti.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, juga menegaskan hal ini. Menurutnya, kawasan seperti Kayutangan adalah identitas kota yang harus dijaga. Dengan dukungan digitalisasi dari berbagai pihak, kawasan ini kini tidak hanya menarik secara historis, tapi juga relevan secara ekonomi.

Sepanjang 2 hingga 8 Mei 2026, QRISMA FEST menghadirkan berbagai kegiatan yang tidak hanya seru tapi juga memiliki dampak langsung. Mulai dari Malang Merchant QRIS Race yang melibatkan lebih dari seribu merchant, hingga Kadjoe Tangan QRIS Race di kawasan heritage. Ada juga workshop digitalisasi, business matching untuk pelaku usaha, kompetisi lingkungan, sampai content competition yang mendorong promosi wisata Kayutangan.

Yang menarik, festival ini tidak hanya bicara soal teknologi, tapi juga perilaku. Ada upaya edukasi agar masyarakat lebih bijak dalam bertransaksi digital karena adopsi teknologi tanpa pemahaman tetap punya risiko. Di sisi lain, UMKM mendapat peluang besar. Dengan sistem pembayaran non-tunai, akses pasar menjadi lebih luas, transaksi lebih praktis, dan pencatatan keuangan bisa lebih rapi. Dampak jangka panjang dari hal ini berpotensi meningkatkan daya saing usaha lokal, meskipun efek pastinya bergantung pada konsistensi penggunaan dan literasi digital pelaku usaha.

Kalau ditarik lebih jauh, QRISMA FEST ini bukan hanya soal Malang. Ini gambaran bagaimana kota bisa bergerak maju tanpa harus meninggalkan jati dirinya. Kayutangan jadi bukti. Di satu sisi, ia menyimpan cerita masa lalu. Di sisi lain, ia menjadi ruang eksperimen untuk masa depan ekonomi digital.

Dan mungkin di situlah letak kekuatannya. Karena pada akhirnya, transformasi yang paling kuat bukan yang menggantikan—tapi yang bisa berjalan berdampingan.

Dari tradisi ke transaksi. Menjaga warisan, mempercepat kemajuan.

Related Post