
Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI), menggelar Webinar Series #3 PIDI 2026 bertajuk “Sosialisasi Use Case Digitalisasi Keuangan Syariah” pada Kamis (05/03). Sosialisasi yang diadakan secara daring ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan “Digdaya x Hackathon 2026” yang diinisiasi oleh Bank Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan, industri, serta mitra strategis lainnya.
Program PIDI Digdaya x Hackathon 2026 kembali digelar sebagai upaya mendorong lahirnya inovasi digital yang mampu menjawab berbagai tantangan di sektor industri dan masyarakat. Inisiatif yang diinisiasi oleh PIDI ini mengintegrasikan pelatihan talenta digital dengan kompetisi hackathon guna menghasilkan solusi teknologi yang siap diimplementasikan.
Program ini berlangsung mulai Februari hingga September 2026 dengan format hybrid, memadukan kegiatan daring dan luring di Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia. Peserta yang terdiri dari profesional dan mahasiswa akan mengikuti rangkaian pelatihan bertahap, mulai dari essential training, practitioner training, hingga capstone project, sebelum masuk ke tahap kompetisi Hackathon untuk mengembangkan ide inovasi.

Dalam kompetisi tersebut, peserta akan mengerjakan sejumlah use case yang berkaitan dengan penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah. Beberapa di antaranya meliputi pengembangan investasi sukuk digital, analitik ZISWAF, platform sertifikasi halal, komersialisasi produk pesantren, hingga pembiayaan UMKM syariah. Beragam topik tersebut diharapkan dapat membuka peluang pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan akses, transparansi, dan efisiensi dalam berbagai sektor ekonomi.
Koordinator PIDI DIGDAYA X Hackathon, Nenden Enda Sari, mengatakan bahwa program ini merupakan bagian dari misi besar untuk menghadirkan dampak nyata bagi perkembangan ekonomi digital Indonesia.
Ia menambahkan bahwa program tersebut tidak hanya sekadar kompetisi, tetapi juga terintegrasi dengan program DIGDAYA yang berfokus pada pengembangan talenta digital. “Harapannya para inovator punya daya saing yang tinggi, bukan hanya upscaling skill dalam lomba, tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja yang luas,” jelasnya.
Sementara itu, perwakilan Departemen Ekonomi Syariah Bank Indonesia, Anna Setyawati, mengungkapkan bahwa lima use case digitalisasi keuangan syariah telah disusun melalui diskusi bersama para pemangku kepentingan.
“Harapannya tidak hanya berhenti di tataran konsep saja, tetapi bisa diimplementasikan melalui berbagai pelatihan sehingga muncul ide yang nyata untuk memperkuat inovasi dan talenta digital,” ujarnya.
